Alek Gugi Gustaman, SKM

Low Back Pain (LBP) atau nyeri punggung bawah menggambarkan nyeri antara tepi bawah tulang rusuk dan pantat. Penyakit ini dapat berlangsung dalam waktu singkat (akut), subakut, atau dalam waktu lama (kronis). LBP bisa menyerang siapa saja. LBP membuat sulit bergerak dan dapat mempengaruhi kualitas hidup, membatasi aktivitas kerja, serta kesejahteraan mental. LBP dapat spesifik atau non spesifik. LBP spesifik adalah nyeri yang disebabkan oleh penyakit tertentu atau masalah struktural pada tulang belakang atau saat nyeri menjalar dari bagian tubuh lain. LBP non-spesifik terjadi ketika penyakit tertentu atau alasan struktural untuk menjelaskan rasa sakit tidak dapat diidentifikasi. LBP tidak spesifik pada sekitar 90% kasus. Diperkirakan 619 juta orang hidup dengan LBP dan merupakan penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. LBP adalah masalah kesehatan masyarakat yang utama. LBP sering dikaitkan dengan hilangnya produktivitas kerja sehingga menimbulkan beban ekonomi yang sangat besar bagi individu dan masyarakat (WHO, 2023).

Penyebab Low Back Pain

Low back pain dapat disebabkan oleh karena kondisi infeksi, kondisi degeneratif, neoplasma, trauma, gangguan kongenital, penyakit metabolik, dan autoimunitas (Tabel 1). Dari berbagai etiologi tersebut, penyebab tersering dari nyeri pinggang bawah adalah penyebab mekanik seperti trauma pada vertebra, diskus maupun jaringan lunak di sekitarnya. Penyebab  kedua terbesar adalah akibat proses degeneratif seperti osteoartritis dan osteoporosis. Faktor risiko untuk terjadinya nyeri pinggang bawah antara lain aktivitas fisik yang berlebihan dalam jangka waktu yang panjang, stres dan ansietas, mengangkat beban berat secara regular, overweight dan  obesitas, serta duduk dalam jangka waktu yang lama (Helfgott, 2009).

Proses Terjadinya Low Back Pain

Nyeri dimediasi oleh nosiseptor, neuron sensorik perifer khusus yang memperingatkan kita akan rangsangan yang berpotensi merusak pada kulit dengan mengubah rangsangan ini menjadi sinyal listrik yang diteruskan ke pusat otak yang lebih tinggi. Nosiseptor adalah neuron somatosensori primer pseudo-unipolar dengan badan neuron yang terletak di dorsal root ganglion (DRG). Nosiseptor memiliki akson bercabang dua: cabang perifer menginervasi kulit dan cabang pusat bersinaps pada neuron orde dua di tanduk punggung sumsum tulang belakang. Neuron orde kedua memproyeksikan ke mesencephalon dan talamus, yang pada gilirannya terhubung ke korteks somatosensorik dan korteks cingulate anterior untuk memandu ciri-ciri sensorik-diskriminatif dan afektif-kognitif dari rasa sakit. Tanduk dorsal tulang belakang adalah tempat utama integrasi informasi somatosensorik dan terdiri dari beberapa populasi interneuron yang membentuk jalur penghambatan dan fasilitasi yang menurun, yang mampu memodulasi transmisi sinyal nosiseptif. Jika stimulus yang berbahaya terus berlanjut, proses sensitisasi perifer dan sentral dapat terjadi, mengubah rasa sakit dari akut menjadi kronis. Sensitisasi sentral ditandai dengan peningkatan rangsangan neuron di dalam sistem saraf pusat, sehingga input normal mulai menghasilkan respons yang tidak normal. Hal ini bertanggung jawab atas allodynia taktil, yaitu rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyikatan ringan pada kulit, dan untuk penyebaran hipersensitivitas rasa sakit di luar area kerusakan jaringan. Sensitisasi sentral terjadi pada sejumlah gangguan nyeri kronis, seperti gangguan temporomandibular, LBP, osteoartritis, fibromialgia, sakit kepala, dan epikondilalgia lateral. Meskipun pengetahuan tentang proses yang menyebabkan sensitisasi sentral telah meningkat, namun masih sulit untuk diobati. Sensitisasi perifer dan sentral memiliki peran kunci dalam kronifikasi LBP. Faktanya, perubahan minimal pada postur tubuh dapat dengan mudah mendorong peradangan jangka panjang pada sendi, ligamen, dan otot yang terlibat dalam stabilitas tulang punggung bawah, yang berkontribusi pada sensitisasi perifer dan sentral. Selain itu, sendi, cakram, dan tulang dipersarafi secara kaya oleh serat delta yang stimulasi terus menerus dapat dengan mudah berkontribusi pada sensitisasi sentral (Allegri et al., 2016).

Manifestasi Low Back Pain

Untuk  Nyeri pinggang  bawah  dapat  bermanifestasi sebagai nyeri neuropatik maupun nyeri nosiseptif. Gejala neurologis yang  berhubungan  dengan  nyeri  pinggang  bawah  adalah nyeri radikular  dan radikulopati. Nyeri  ini merupakan nyeri yang  timbul  apabila  terdapat  keikutsertaan  radiks;  yang banyak  disebut sebagai  sciatica.  Diagnosis sciatica  didasari dengan  temuan  klinis,  termasuk  riwayat  nyeri  kaki dermatomal,  nyeri  kaki  yang  lebih  berat  dibandingkan dengan  nyeri  pinggang  dan  perburukan  nyeri  kaki  di  saat pasien batuk,  mengejan atau  bersin. Sedangkan radikulopati ditandai  dengan  adanya  kelemahan,  penurunan  sensasi sensorik,  atau  penurunan  motorik  yang  berkaitan  dengan radiks,  maupun  kombinasi  di  antara  keduanya  serta  dapat timbul  bersamaan  dengan  nyeri  radikular.  Individu  yang memiliki gejala ini dilaporkan lebih terdampak dan memiliki outcome  yang  lebih  buruk  dibandingkan  dengan  individu yang  hanya  memiliki  keluhan  nyeri  pinggang  bawah  (Hatvigsen et al,2018). Herniasi  diskus  dengan  inflamasi  pada  jaringan  sekitarnya merupakan  salah  satu  penyebab  utama nyeri  radikular  dan radikulopati (Hatvigsen et al,2018). Tanda yang wajib diwaspadai pada  pasien dengan nyeri  pinggang antara lain:

Red Flags pada nyeri punggung (De Palma,2021)

Tanda

Patologi Terkait

Penurunan tonus sfingter ani

Sindroma kauda equina

Hiperrefleksia

Kompresi medulla spinalis akut

Hiporefleksia atau arefleksia

Sindroma kauda ekuina

Kelemahan otot ekstremitas bawah

Kompresi medulla spinalis akut atau Sindroma kauda equina

Saddle anesthesia

Sindroma kauda equina

 

Manajemen Low Back Pain

a.      Pencegahan

            Terjadinya LBP pada pekerja sangat terkait dengan pekerjaan yang dilakukannya. Risiko di tempat kerja meliputi kerja fisik berat, penanganan dan cara pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh selama bekerja, getaran, dan kerja statis. Tindakan pencegahan dilakukan dengan strategi pencegahan sebagai berikut:

  Edukasi dan pelatihan

Edukasi dapat meliputi teknik mengangkat beban, posisi tubuh saat bekerja, peregangan, dan sebagainya. Lebih lanjut juga diberikan exercise untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan ketahanan punggung bawah (Winata, 2014).

· Ergonomi

Bila memang ada faktor risiko pekerjaan terhadap timbulnya LBP di tempat kerja, maka perlu dilakukan upaya kontrol. Upaya ini dapat meliputi pengadaan mesin pengangkat, ban berjalan, dan sebagainya. Adanya regulasi khusus dari perusahaan mengenai pembatasan jumlah beban yang dapat diangkat oleh pekerja adalah langkah yang baik. Demikian juga halnya dengan pembatasan waktu bekerja (Winata, 2014).

• Menjadi aktif secara fisik

• Mengoptimalkan kesejahteraan mental

• Menjaga berat badan yang sehat

• Tidak mengangkat berat

• Tidur yang berkualitas

b.      Terapi non farmakologi

            Terdapat berbagai latihan yang dapat menjadi pilihan terapi suportif nyeri punggung bawah, termasuk latihan umum dan peningkatan ketahanan otot (BKOM Bandung).

1.        Hamstring Stretch

Posisi berbaring. Kaki kanan ditekuk perlahan tarik kaki kiri lurus keatas dengan kedua tangan dibelakang lutut ( posisi siku lurus). Tahan selama 5 detik rasakan regangan pada bagian belakang paha. Ulangi dengan kaki kanan. Lakukan sebanyak 3 kali pada tiap kaki.

2.        Pelvic Tilts

Tidur terlentang dengan lutut ditekuk. Angkat panggul ke atas dan rasakan panggung menenpel ke lantai. Tarik nafas, angkat panggul, pertahankan lima hitungan. Kemudian hembuskan nafas sambil menurunkan panggul anda kembali dan ulangi lagi 8-12 kali. Perhatian : jangan melekungkan punggung, kembungkan perut.

3.        Alternate Arm And leg ( Bird Dog ) Exercise

Posisi menghadap lantai dengan tangan lurus, perlahan naikkan kaki kanan lurus keatas, sehingga sejajar dengan punggung. Tahan selama 5 detik. Lakukan bergantian dengan kaki kiri. Lakukan sebanyak 8-12 kali pada setiap kaki. Jika sudah terbiasa, gerakan ditingkatkan dengan mengangkat tangan yang berlawanan dengan kaki.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.      Casazza BA. Diagnosis and Treatment of Acute Low Back Pain. Am Fam Physician. 2012;85(4):343–350.

2.      Gouveia N, Rodrigues A, Ramiro S, Eusebio M, Machado PM, Canhao H, et al. The use of analgesic and other pain-relief drugs to manage chronic low back pain: results from a national survey. World Institue of Pain. 2016:1-13. 26.

3.      Shaheed CA, Maher CG, Williams KA, McLachlan AJ. Efficacy and tolerability of muscle relaxants for low back pain: systematic review and meta-analysis. European Journal of Pain. 2016;21(2017):228-37.

4.      Takahashi N, Omata J, Iwabuchi M, Fukuda H, Shirado O. Therapeutic efficacy of nonsteroidal anti-inflammatory drug therapy versus exercise therapy in patients with chronic nonspecific low back pain: a prospective study. Fukushima J Med Sci. 2017;63(1):8-15.

5.      Winata SD. Diagnosis dan Penatalaksanaan Nyeri Punggung Bawah dari Sudut Pandang Okupasi. J. Kedokteran Meditek Vol. 20 No. 54. 2014

6.      Wise J. Gabapentinoids should not be used for chronic low back pain, metaanalysis concludes. 2017;358:1-2

7.      Allegri, M. et al. (2016) ‘Mechanisms of low back pain: A guide for diagnosis and therapy’, F1000Research, 5, pp. 1–13. doi:10.12688/F1000RESEARCH.8105.1.

8.      DePalma MG. Red flags of low back pain. J Am Acad Physician Assist [Internet]; 2020 Aug 1 [cited 2021 Jan 9].  33(8):8–11. Available  from: https://journals.lww.com/10.1097/01.JAA.0000684112.91641.4c

9.      Hartvigsen  J,  Hancock  MJ,  Kongsted  A,  Louw  Q, Ferreira ML, Genevay  S, et  al. What low back pain  is and why we need to pay attention. The Lancet. Lancet Publishing Group; 2018. 391:2356–67

10.  Helfgott, S. (2009) ‘Low back pain’, Decision Making in Medicine: An Algorithmic Approach: Third Edition, pp. 524–525. doi: 10.21776/ub.jphv.2021.002.01.4.

11.  Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat. Low Back Pain  (LBP Exercise). Balai Kesehatan Olahraga Masyarakat Bandung.