dr. Ika Nurfarida, M.Sc, SpKJ

Sejarah Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dicetuskan pertama kali oleh Richard Hunter, yaitu Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Dunia untuk Kesehatan Mental (WFMH) pada 10 Oktober 1992. WFMH adalah sebuah organisasi internasional yang berfokus pada isu-isu Kesehatan Jiwa. Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini bertujuan untuk memberikan edukasi kesehatan jiwa kepada masyarakat serta melawan stigma sosial. Setiap tanggal 10 Oktober setelah peringatan pertama pada 1992, ada banyak pendukung yang datang untuk turut merayakan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa Hari Kesehatan Jiwa Sedunia adalah kesempatan bagi dunia untuk berkumpul dan mulai memperbaiki pengabaian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Tujuan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh pada tanggal 10 Oktober setiap tahunnya adalah dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa serta mendorong mobilisasi upaya dalam rangka mendukung kesehatan jiwa. Tak hanya kepada masyarakat, secara umum kegiatan tahunan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tenaga kesehatan, pemerhati kesehatan jiwa serta masyarakat terkait isu-isu kesehatan jiwa, memaparkan, dan membahas berbagai tantangan seputar masalah kesehatan jiwa.

Adapun tujuan khusus diselenggarakannya hari penting dalam dunia kesehatan jiwa ini sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya isu-isu kesehatan jiwa.
  2. Mendorong peran berbagai tenaga profesional jiwa.
  3. Mendorong semua mitra kerja dan komunitas kesehatan jiwa untuk melakukan inovasi yang terintegrasi untuk meningkatkan kesehatan

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober akan diperingati oleh seluruh negara-negara yang ada di dunia. Sebagai upaya untuk membangun kesadaran akan pentingnya Kesehatan jiwa kepada masyarakat umum.

Tidak hanya itu, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober 2021 juga akan mengusung tema yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Tepat pada 1994, pertama kalinya peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini memiliki tema khusus, yaitu “Meningkatkan Mutu Pelayanan Kesehatan Jiwa di Seluruh Dunia”.

Kemudian pada tahun 1995 berbagai acara internasional dilakukan untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa. Mulai dari rangkaian acara selama sebulan di Mesir, hingga konferensi yang diadakan oleh Federasi Prancis untuk Kesehatan Jiwa di Kementerian Kesehatan, hingga sebuah perayaan komunitas di Kepulauan Mikronesia kecil di Pasifik. Setiap tahun, Hari Kesehatan Jiwa Sedunia kemudian diperingati dengan tema. Tahun 2019 lalu, temanya adalah "Promosi Kesehatan Mental 2019 dan Pencegahan Bunuh Diri".

Sedangkan pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun 2020, WHO bersama dengan organisasi mitra, United for Global Mental Health dan World Federation for Mental Health, menyerukan peningkatan besar-besaran dalam investasi kesehatan jiwa. Untuk mendorong tindakan publik di seluruh dunia, kampanye Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, "Gerakan untuk Kesehatan Jiwa: Mari Berinvestasi” telah dimulai pada bulan September.

Lalu bagaimana dengan tema Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021 tahun ini?

Mengutip dari situs resmi WHO, Hari Kesehatan

Jiwa Sedunia 2021 mengambil tema "Mental health care for all: let's make it a reality". WHO mengkampanyekan perawatan kesehatan mental untuk semua orang tanpa terkecuali. Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini secara global bertemakan “Mental Health In An Unequal World” dengan subtema nasional “Kesetaraan Dalam Kesehatan Jiwa Untuk Semua”.

Masalah kesehatan jiwa di kalangan masyarakat menjadi salah satu sorotan penting terutama pada masa pandemi Covid-19 kali ini. Pandemi covid-19 memberikan dampak yang cukup masif ke semua orang. Tidak hanya gangguan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan jiwa orang-orang terganggu akibat pandemi ini. 

Masalah kesehatan jiwa di kalangan masyarakat menjadi salah satu hal yang penting terutama pada masa pandemi Covid-19. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan tingkat prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia cukup tinggi, dan meningkat akibat pandemi. Data menunjukkan 20 persen populasi berpotensi mengalami masalah gangguan kesehatan jiwa. Selanjutnya, sampai detik ini belum semua provinsi memiliki fasilitas rumah sakit jiwa yang mengakibatkan adanya kesenjangan pengobatan antara satu daerah dengan daerah lainnya, stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat kepada ODGJ, serta masih terbatasnya tenaga kesehatan jiwa yang tersedia.

WHO menyadari hal ini dan setelah Majelis Kesehatan Dunia pada Mei 2021, pemerintah dari seluruh dunia menyadari perlunya meningkatkan kualitas layanan kesehatan jiwa di semua tingkatan.

SEHAT JIWA

Tahukah Anda apa sebenarnya definisi sehat? Apakah bebas dari penyakit saja bisa disebut sehat?

Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 yang dimaksud dengan “Kesehatan” adalah:

“Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Atas dasar definisi Kesehatan tersebut di atas, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik): dari unsur “badan” (organobiologik), “jiwa” (psiko-edukatif) dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dan “kesejahteraan” dan “produktivitas sosial ekonomi”.

Dan definisi tersebut juga tersirat bahwa “Kesehatan Jiwa” merupakan bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari “Kesehatan” dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas hidup manusia yang utuh. Menurut Undang-undang No 3 Tahun 1966 yang dimaksud dengan “Kesehatan Jiwa” adalah keadaan jiwa yang sehat menurut ilmu kedokteran sebagai unsur kesehatan, yang dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut: “Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain”. Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan memperhatikan semua segi-segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya dengan manusia lain. Kesehatan jiwa adalah bagian integral dari kesehatan dan merupakan kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, mental dan sosial individu secara optimal, dan yang selaras dengan perkembangan orang lain.

Seseorang yang “sehat jiwa” mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Merasa senang terhadap dirinya serta
  • Mampu menghadapi situasi?
  • Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup
  • Puas dengan kehidupannya sehari-hari
  • Mempunyai harga diri yang wajar
  • Menilai dirinya secara realistis, tidak berlebihan dan tidak pula merendahkan
  1. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain serta
  • Mampu mencintai orang lain
  • Mempunyai hubungan pribadi yang tetap
  • Dapat menghargai pendapat orang lain yang berbeda
  • Merasa bagian dari suatu kelompok
  • Tidak “mengakali” orang lain dan juga tidak membiarkan orang lain “mengakali” dirinya
  1. Mampu memenuhi tuntutan hidup serta
  • Menetapkan tujuan hidup yang realistis
  • Mampu mengambil keputusan
  • Mampu menerima tanggungjawab?
  • Mampu merancang masa depan
  • Dapat menerima ide dan pengalaman baru
  • Puas dengan pekerjaannya

Jika ada yang tidak sesuai dengan ciri-ciri di atas, silakan agendakan untuk konsultasi ke psikiater kami di Klinik Kesehatan Jiwa RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, setiap hari kerja: Senin – Jumat, pukul 08.00 – 13.00. Pendaftaran online melalui rsjlawang.com

 

SALAM SEHAT JIWA