Noerul Ikmar, S.KM

Generasi milenial dan generasi Z sedang gandrung-gandrungnya dengan rokok elektrik. Awalnya, rokok elektrik diciptakan sebagai pengganti nikotin yang ditakuti pada rokok konvensional atau tembakau. Penggunaan rokok elektrik menjadi viral di kalangan remaja hingga dewasa baik pada laki-laki maupun perempuan. Pemahaman masyarakat yang masih rendah terhadap bahaya rokok elektrik membuat semakin tingginya penggunaan rokok elektrik. 

Terdapat klaim bahwa rokok elektrik dianggap lebih aman dari rokok tembakau. Hal ini membuat perokok konvensional beralih ke rokok elektrik karena merasa lebih aman. Begitu juga dengan perokok pemula yang berani mencoba karena menganggap rokok elektrik bukanlah rokok. Mereka dengan santai menggunakan rokok elektrik karena tidak memahami bahwa rokok elektrik tetaplah rokok dengan sederet kandungan bahan kimianya yang bahaya bagi tubuh khususnya saluran pernafasan. 

Perbandingan Rokok Tembakau dan Rokok Elektrik

Rokok elektrik diyakini memiliki kandungan kimia yang lebih sedikit dari rokok tembakau. Meskipun demikian rokok elektrik tetap mengandung nikotin dan zat-zat lainnya yang terkandung dalam cairannya. Anggapan bahwa rokok elektrik lebih aman dari rokok tembakau tentu saja tidak dapat dibenarkan.

Salah satu kandungan rokok tembakau yang sering dibahas karena menimbulkan efek kecanduan adalah nikotin. Perkiraan kandungan nikotin dalam sebatang rokok sebesar 1-2 mg. Selain nikotin, rokok juga mengandung zat-zat lainnya yaitu tar, karbonmonoksida, hidrogen sianida, hidrokarbon, ammonia, kadmium, formaldehida, arsen, bensol dan nitrosamin. Zat tersebut berbahaya bagi paru-paru, jantung dan organ tubuh lainnya. 

Nikotin dalam vape atau rokok elektrik berbentuk cairan. Kadar nikotin yang terdapat dalam satu kemasan vape bervariasi tergantung merek dan varian produknya. Kandungan lainnya dalam rokok elektrik seperti nikotin, asam benzoate, propilen glikol, gliserol dan penambah rasa. Berapa besar kandungannya tidak jelas karena kebanyakan produk rokok elektrik merupakan produksi luar negeri yang masuk ke Indonesia sebagai barang elektronik. Hal ini menyebabkan rokok elektrik tidak melewati pengujian BPOM atau uji lainnya oleh pemerintah sehingga kandungan dan efek dari rokok elektrik tidak dapat dipertanggungjawabkan. Apalagi di Indonesia, aturan mengenai rokok elektrik juga belum ada kejelasan.

Lemahnya Kontrol Perokok Elektrik terhadap Konsumsi Harian

Ketidakjelasan seberapa besar kandungan zat berbahaya dalam rokok elektrik membuat perokok tidak sadar seberapa besar bahaya yang dia hisap setiap harinya. Apabila rokok tembakau dapat diukur dengan berapa banyak jumlah batang yang dihisap dalam sehari, belum ada gambaran yang tepat untuk mengukur konsumsi harian rokok elektrik. Apalagi dengan asumsi rokok elektrik yang lebih aman, perokok elektrik tidak bisa mengontrol seberapa banyak hisapan yang sudah dia konsumsi per hari. Hal ini berujung potensi konsumsi zat berbahaya rokok elektrik lebih banyak dari rokok tembakau. 

Ditambah dengan adanya tambahan rasa dalam rokok elektrik membuat perokok lebih percaya diri merokok tanpa batasan. Perokok konvensional masih dapat dibatasi dengan adanya bau dan asap bakaran tembakau misalkan ketika di tempat umum atau pada kawasan tertentu merasa sungkan akan mengganggu orang lain. Bau dengan berbagai varian dari rokok elektrik membuat perokok elektrik tetap percaya diri menghisap rokok elektrik kapan saja dan di mana saja. Kondisi ini tentu saja dapat meningkatkan jumlah perokok pasif yang tidak kalah bahayanya dengan perokok aktif. 

Selain meningkatkan risiko masyarakat menjadi perokok pasif, rokok elektrik juga memiliki potensi menambah jumlah perokok pemula khususnya di usia remaja. Berbagai varian rasa dan bentuk dari rokok elektrik memang memanjakan mata dan rasa penasaran untuk dicoba. Rokok tembakau masih memiliki rasa pahit yang dapat menjadi faktor penghambat perokok pemula untuk merokok karena rasa tidak nyamannya. Sedangkan pada rokok elektrik, rasa pahit bukan hambatan lagi bagi perokok pemula karena tertutup dengan varian rasa dan baunya. 

Apalagi, dari segi bentuk dan cara penggunaan rokok elektrik lebih mudah diakses daripada rokok tembakau. Mengalungkan rokok elektrik di badan sudah menjadi tren di masa kini. Pemakaiannya dapat disesuaikan dengan tampilan yang diinginkan oleh perokok. Kapan dan di mana dapat menghisap rokok elektrik dengan mudah. Hal ini tentu saja membuat frekuensi merokok jadi lebih sering dan tidak terkontrol. 

Tetap Menjadi Keren Tanpa Rokok

Berhenti merokok sama sekali tetap menjadi solusi terbaik untuk mengurangi bahaya rokok tembakau. Tentu saja berhenti merokok bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Nikotin memiliki efek pada otak yang membuat penggunanya bahagia dan tenang. Inilah yang menyebabkan perokok menjadi kecanduan dan sulit berhenti karena siklusnya seperti lingkaran setan yang tidak mudah diputus. Perokok yang ingin berhenti dapat menggunakan layanan berhenti merokok yang biasanya diberikan oleh psikiater untuk mengendalikan kecanduannya. Selain itu, bagi perokok yang memiliki gangguan pada saluran pernafasan sebaiknya segera memeriksakan diri pada dokter spesialis paru mengingat besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh rokok baik rokok tembakau maupun rokok elektrik.

 

Sumber Foto:

https://www.freepik.com/free-vector/vape-cafe-horizontal-banners_10093829.htm

 

Referensi:

 

Ismanta, A. D. (2024). Hubungan Persepsi Tentang Bahaya Rokok Elektrik Terhadap Perilaku Vaping Pada Mahasiswa UNS.