Noerul Ikmar, S.KM

 

Siapa sih di dunia ini yang tidak ingin bahagia? Rasanya tidak mungkin bila tidak ada. Semua orang sibuk menempuh jalan bahagia sampai lupa apa sebenarnya hakikat dari bahagia itu sendiri.

Bahagia menurut Julianto, dkk (2020) merupakan salah satu jenis emosi positif yang dapat dialami oleh setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan. Banyaknya jenis bahagia membuat usaha untuk mencapai bahagia juga berbagai macam. Jalan yang dipilih orang untuk bahagia juga akan beragam tergantung dari persepsi atas peristiwa yang orang tersebut alami.

Perjalanan panjang mencari yang mereka sebut “bahagia”

Salah satu cara orang mencari bahagia adalah dengan menjalin relasi dengan lawan jenis atau berpasangan. Relasi yang dijalin ini dapat menjadi positif dan berujung bahagia. Namun tidak sedikit juga di antara relasi yang dijalani berisi hal negatif atau toxic yang akhirnya hanya berisi kebahagiaan yang semu.

Sayang sekali, meskipun tahu dan sadar bahwa sedang terjebak dalam toxic relationship, tidak diikuti dengan kemampuan individu untuk keluar dari relasi tersebut. Keluar dari relasi yang tidak sehat memang bukan hal yang mudah. Tidak semua orang dapat memiliki kesempatan untuk berani keluar dari relasi tersebut. Berikut ini alasan sulitnya melepaskan diri dari relasi yang tidak sehat:

1.   Keyakinan relasi dapat kembali ke masa bahagia

Setiap relasi pasti mengalami yang namanya pasang dan surut, artinya ada titik tertinggi dalam suatu relasi yang rasanya seperti paling bagus atau paling bahagia. Memori terhadap puncak relasi tadi yang biasanya dijadikan harapan oleh korban relasi tidak sehat. Korban merasa bahwa relasinya akan dapat kembali ke masa kejayaan itu. Perasaan tersebut membuat korban banyak memberi kesempatan untuk pelaku dengan harapan dapat mengalami masa puncak relasi kembali.

2.   Mengira pasangan sudah berubah atau akan berubah

Relasi yang sudah terjalin cukup lama tentunya sudah banyak menyita waktu, perasaan, kasih sayang, dan pengorbanan lainnya oleh korban. Semua yang sudah “diinvestasikan” oleh korban menimbulkan harapan bahwa pelaku akan berubah atau bahkan sudah berubah. Padahal relasi yang tidak sehat seharusnya tidak diuluulur untuk disudahi. Semakin lama dan banyak “investasi” yang dicurahkan oleh korban, membuat harapan semakin besar sedangkan perubahan pasangan yang dipaksakan hanya ilusi saja.

3.   Pasangan manipulatif

Salah satu ciri relasi yang tidak sehat adalah adanya perilaku manipulatif. Pelaku yang manipulatif mampu mengobrak-abrik pendirian korban sehingga korban merasa rendah diri, tdak berharga dan bergantung kepada pelaku. Pelaku juga dapat membuat korban merasa bersalah apabila memutuskan hubungan atau mengabaikan pelaku. Semua perilaku manipulatif oleh pelaku bertujuan untuk menguasai dan mengendalikan korban.

4.   Terbiasa hidup dengan masalah

Setiap orang menjalani hidup sesuai dengan pengalaman hidupnya bahkan sejak masa kecilnya. Ada orang tertentu yang terbiasa dengan keributan, masalah dan hubungan yang penuh drama. Orang seperti ini rawan menjadi korban dalam relasiyang tidak sehat. Korban tipe ini biasanya tidak sadar kalau sudah terjebak dalam relasi yang tidak sehat. Kacamata normal versi korban adalah adanya masalah dalam menjalankan relasi. Apabila hubungan tenang dan sehat, maka korban tidak merasa nyaman lagi. Maka dari itu korban ini awet meskipun banyak dirugikan dalam menjalankan relasi.

 

Sumber Gambar:

Image by <a href="https://www.freepik.com/free-vector/divorce-concept-illustrated-with-people-distancing-each-other_8978741.htm#query=toxic%20relationship&position=30&from_view=search&track=ais">Freepik</a>

 

Referensi:

Julianto, V., Cahayani, R. A., Sukmawati, S., & Aji, E. S. R. (2020). Hubungan antara harapan dan harga diri terhadap kebahagiaan pada orang yang mengalami toxic relationship dengan kesehatan psikologis. Jurnal Psikologi Integratif, 8(1), 103-115.